SELAMAT DATANG DI KANTOR PEMERINTAHAN DESA PANYADAP --Tiktok @desa.panyadap --

Artikel

Sejarah Desa

27 Agustus 2016 16:38:09  Administrator  881 Kali Dibaca  Berita Desa

1.

Gambaran Umum Desa Panyadap

 

1.1

Geografis Daerah

 

 

Desa Panyadap, Kecamatan Solokanjeruk Kabupaten Bandung terletak ±3 km dari ibu kota kecamatan dan ± 30 km dari ibu kota kabupaten. Merupakan daerah dataran dengan pesawahan yang subur, ± 550m di atas permukaan laut dengan luas ±1500 Ha. Jumlah penduduknya 11.000 jiwa.

Kira-kira 400 tahun yang lalu, daerah ini merupakan hamparan air karena banyaknya rawa atau Ranca, dengan pepohonan-pepohonan liar di atas ranca tersebut dan belum ada kampung-kampung seperti sekarang. Di daerah ini banyak sekali pohon aren yang dimana mata pencaharian dari penduduk Panyadap adalah sebagai tukang sadap air nira. Panyadap pada waktu itu hanya di huni oleh 6 (enam) rumah yang ada di pinggiran kali Cisungalah. Dulu cisungalah di pinggir sungainya ditumbuhi pohon Nipah atau Kirai sebagai bahan atap rumah. Dan sungainya banyak menghasilkan pasir yang menjadikan Panyadap menjadi kampung yang resik.

 

1.2

Sejarah Asal Usul Desa Panyadap

 

 

Dulu Panyadap di kelilingi oleh rawa-rawa atau ranca, kira-kira ± 250 tahun yang lalu, rawa atau ranca mulai mongering dan mulai di cetak pesawahan-pesawahan oleh masyarakat Panyadap pada saat itu, yang dipelopori oleh eyang buyut Panyadap. pesawahannya dialiri dari sungai Cisungalah, yang sumber airnya berasal dari hulu sungai citarum mengalir hingga Desa Panyadap merupakan hamparan sawah yang luas dan sebagai gudang padi di wilayah majalaya pada saat itu. Setelah percetakan sawah-sawah baru mulailah muncul atau tumbuh kampung-kampung diserkitar Panyadap seperti Rancakaso, Rancabayawak, Rancaenong, Rancapanjang, Rancanyiruan, dan kampung-kampung yang lainnya.

Selain memiliki areal sawah yang luas, tanah Panyadap ditumbuhi hutan kawung (Aren), yang sering tiap hari disadap nira-nira nya untuk dijadikan Gula dan minuman segar yang bernama Lahang (Bahasa Sunda) Sehingga Nama kampung tersebut disebut Paknyadap (Bapak Nyadap atau Bapak Tukang Nyadap).

 

1.3

Agama, Sejarah Budaya, dan Situs Budaya

 

 

a.

Kondisi Kepercayaan dan Agama

 

 

 

-

Kepercayaan atau Animisme

 

 

 

 

Masyarakat Panyadap, pada waktu itu masih bersifat animisme atau, percaya pada arwah leluhur atau dalam bahasa sunda disebut karuhun yang bersemayam atau tinggal di batu-batu besar atau pohon-pohon besar dan mereka melakukan ritual dengan membakar kemenyan atau dupa, dan sisa-sisa kepercayaan itu sampai sekarang masih ada pada sebagian kecil masyarakat di sekitar Panyadap.

 

 

 

-

Singgahnya Agama Hindu-Budha ke Panyadap

 

 

 

 

Agama Hindu-Budha pernah singgah di Panyadap, yakni dibawa oleh Panglima perang Lingga Wastu yang lolos dari serangan Kesultanan Cirebon, Kerajaan Lingga Wastu, merupakan kerajaan Hindu-Budha yang terletak di daerah Tasikmalaya. Perjalanan pelolosan diri panglima perang Lingga Wastu dari serangan kesultanan Cirebon, Beliau bersama 8 Orang pengawalnya menuju kearah barat daerah limbangan-garut, dari limbangan menyusuri jalan setapak di pinggiran gunung-gunung nagreg, sebelah selatan daerah Cicalengka-Majalaya. Yang akhirnya sampai dan bersembunyi di suatu tempat berupa hutan lebat  yang sunyi dekat kampung Panyadap yaitu di kawasan hutan lindung Gunung Asri atau masyarakat Panyadap sekarang menyebutnya Sindang Suni.

Panglima perang beserta 8 Prajurit dan 10 ekor kuda yang dibawanya ke daerah Sindang suni tersebut masuk dan bersembunyi. Di dalam hutan Gunung Asri itu, panglima perang kerajaan Lingga wastu itu mereka sering melakukan ritual-ritual Agama Hindu-Budha dengan ditemukannya peninggalan berupa Patung-patung Arca Hindu-Budha kecil, dengan pembakaran dupa/kemenyan, sampai akhirnya mereka meninggal secara Tilem (Hilang secara Misterius) beserta kuda-kudanya. Acara Ritual Keagamaan Hindu-Budha yang dilakukan Panglima perang Lingga Wastu itu disebut dengan kata “Puja”, maka hingga kini perkampungan atau lokasi Gunung Asri atau Sindang Suni Diberi nama kampung “Puja”

 

 

 

-

Sejarah Masuknya agama islam di Panyadap

 

 

 

 

Yang merupakan jadi cikal bakal masuknya Agama islam di Panyadap yakni di bawa oleh seorang ulama yang berasal dari Cirebon beliau dijuluki masyarakat Panyadap dengan  nama “Embah Buyut Panyadap” yang dimana hingga saat ini Nama asli beliau belum diketahui. Selain pelopor pembawa islam ke Panyadap, beliau pun merupaka pendiri pertama Mesji Pusaka Panyadap, yang pada saat itu hanya berupa tajuk, atau mesjid kecil yang didirikan di pinggiran sungai Cisungalah, yang hingga kini telah dilakukan pemindahan dan pemugaran sebanyak 8x. Lalu siapakah “Embah buyut Panyadap”??, Menurut sejarah, Embah Buyut Panyadap  berasal dari Cirebon, yaitu Trusmi yang juga sebagai prajurit Kesultanan Cirebon dan kerabat keluarga Sultan Cirebon. Pada masa itu para prajurit Cirebon memang banyak direkrut untuk penyebaran Agama Islam ke daerah-daerah kekuasaan dan yang dilalui oleh kesultanan Cirebon tersebut. Memang tugas prajurit Cirebon pada saat itu, selain berperang, mereka pun diwajibkan menyebarkan Agama Islam dan berdakwah.

Cara pengenalan islam yang disampaikan beliau sangatlah menarik dan memancing ke inginan masyarakat Panyadap pada saat itu, beliau dianggap sakti oleh masyarakat Panyadap yakni hanya dengan mengucapkan Bissmillahirrahmanirrahim beliau bias mengangkat pohon aren sebesar perut kerbau dengan tangan dengan seorang diri, tentu saja masyarakat Panyadap pada saat itu sangatlah heran dan takjub pada beliau, hingga akhirnya banyak masyarakat yang ingin mempelajari lebih dalam tentang Agama Islam, serta Kalimah-kalimah Alloh yang tertulis di dalam Al Qur’an. Selain dengan cara tersebut beliaupun mengajak Masyarakat Panyadap dengan cara memberi contoh sifat-sifat kebaikan, dan dengan menunjukan kekuatan-kekuatan ilmu yang berdasarkan pada ayat-ayat Alloh SWT, hingga masyarakat Panyadap pada saat itu mulai tertarik dengan ajaran islam yang disampaikan oleh beliau. Pada saat itu mulailah terkumandang syahadat “Ashadu Anna Illaha Illalloh, wa Ashadu Anna Muhammaddarrasululloh” dari semua masyarakat Panyadap yang mulai masuk Agama Islam. Di mesjid pusaka tersebut, Beliau mulai mengajarkan Mengaji Al Qur’an pada masyarakat Panyadap, dan memperkenalkan islam lebih dalam pada masyarakat desa Panyadap hingga berdakwah ke kampung-kampung.

 

 

b.

Situs dan Peninggalan Desa

 

 

 

a.

Mesjid Pusaka Panyadap

 

 

 

 

Bila berbicara tentang Panyadap, maka erat kaitannya dengan sebuah mesjid yang bernama “Pusaka”. Mesjid pusaka yakni satu-satunya mesjid cikal bakal penyebaran Agama Islam di wilayah Panyadap. Kenapa Nama mesjid tersebut diberi nama Pusaka (merupakan akronim dari Poma Ulah Sieun Anging Ku Allaah) ?, karena di Mesjid itu tersimpan benda-benda yang sengaja dibawa oleh Embah Buyut, yakni berupa :

1.    Gentong/Buyung Besar sebagai tempat air untuk berwudhu yang disiuk dengan menggunakan batok kelapa.

2.    Batu ampar besar ukuran 100 x 80 cm sebagai pijakan tatkala berwudhu di depan mesjid (sajadah sholat dalam perjalanan dakwah).

3.    Al-Qur’an besar dari kulit kayu yang ditulis tangan, disimpan di dalam mesjid untuk belajar mengaji dan Al-Qur’an kecil sebesar ibu jari.

4.    Tombak dan keris yang disimpan di dekat imam sholat untuk berjaga-jaga kalau diserang musuh.

ADAT ISTIADAT DI DESA PANYADAP

1.

Adat Istiadat Kelahiran, khitanan, Perkawinan, dan kematian

 

Dalam hal kebiasaan yang biasa dilakukuan oleh masyarakat Panyadap secara turun temurun atau biasa di sebut dengan adat istiadat, masyarakat Panyadappun mempunyai hal-hal yang lazim hampir sama dilakukan oleh masyarakat di desa lain.

 

1.1

Adat Istiadat kelahiran di Desa Panyadap

 

 

Masyarakat Panyadap sejak dulu mengenal ritual atau kebiasaan dalam perlakuan kepada wanita hamil yakni berupa syukuran yang di lakukan bertahap. Mulai dari sukuran 4 bulanan, dan 7 bulanan biasanya warga Panyadap selain melakukan syukuran berupa pengajian Al Qur’an juga biasa dilakukan acara “Ngarujak Tujuh Bulanan”    bagi wanita hamil. Dan pada proses pelahiran Anak pada masa itu seutuhnya menggunakan jasa dukun beranak, disusul dengan diadakannya syukuran penyambutan anak yang baru lahir berupa marhabaan.

 

1.2

Adat Istiadat khitanan di Desa Panyadap

 

 

Masyakata Panyadap pada masa dulu mengawali acara khitanan selalu diawali dengan Upacara mandi kembang bagi anak yang akan disunat sebelum nya anak tersebut di arak rame-rame sambil diiringi tabuhan gendang sambil di gendong oleh ayah nya menuju tempat pemandian, berupa kolam yang biasa dipakai mandi oleh masyarakat sekitar pada waktu itu. Si anak yang akan di khitan di rendam beberapa jam di kolam tersebut, dengan tujuan supaya kulit anak tersebut terasa kebal agar tidak merasakan sakit saat disunat. Setelah prosesi perendaman anak tersebut, kemudian di gendong lagi secara rame-rame ke rumah dukun sunat. Dan selanjutnya dilakukan syukuran oleh orang tuanya dengan agar si anak tersebut sehat dan selamat. Pada saat itu orang tua sianak khitan membuatkan bakakak  dan panggang beras ketan (bahasa sunda), untuk dibagikan pada anak-anak yang lainnya.

 

1.3

Adat Istiadat Perkawinan di Desa Panyadap

 

 

Masyarakat Desa Panyadap menyikapi adat istiadat pernikahn memang cukup mengaggapnya sebuah hal yang sangat penting, masyarakat Panyadap dalam prosesi menjalankan Adat istiadat pernikahan terpaku pada tata cara suku sunda pada umumnya. Yakni biasa melalui prposesi Lamaran pihak mempelai lelaki ke pada pihak mempelai perempuan, seterusnya dilanjutkan pada proses penentuan waktu perniakah. Dan dalam prosesi pernikahan pun menyangkut beberapa hal yang dilakukan. Diantaranya :

-      Acara mandi kembang bagi pengantin perempuan

-      Acara Penyambutan tamu mempelai pria oleh keluarga mempelai perempuan yang biasanya menggunakan kesenian Lengser ( Yang biasa di gelar pada prosesi penyambutan pengantin atau penyambutan pejabat/orang-orang penting)

-      Acara Akad Nikah atau orang sunda biasa menyebutnya (Dirapalan).

-      Dan dilanjutkan pada Acara penyambutan Tamu Undangan dengan biasa dusuguhkan hiburan kesenian tradisional ( kecapi suling, Degung, Cianjuran dll) maupun modern (berupa Orkes melayu, pop, keyboard tunggal).

 

1.4

Adat Istiadat Kematian di Desa Panyadap

 

 

Masyarakat desa Panyadap dalam prosesi pemeliharaan jenazah, biasa dilakukan umum seperti warga Islam di Desa lain. Yakni dengan cara bersama-sama tetangga,kerabat, maupun keluarga Almarhum melaksanakan Proses Pemeliharaan jenazah, Mulai dari memandikan Jenazah, menggali liang lahat bagi jenazah, hingga mengantarkan jenazah ke kuburnya dilakukan dengan gotong royong dan saling tolong-menolong.

Pada Umumnya setelah beres prosesi pemakaman, biasa keluarga Almarhum membagikan sedekah yang mewakili Almarhum yang dibagikan kepada orang-orang yang telah membantu dalam prosesi pemakaman jenazah, yakni rata-rata berupa beras disertai uang.

 

 

Setelah usai pemakaman jenazah, maka keluarga Almarhum selanjutnya melakukan proses do’a perpisan untuk jenazah, biasa disebut Nyusur tanah (Bahasa Sunda) dilanjutkan pada do’a rutin bagi jenazah, berupa Yasin atau Tahlilan yang dihadiri oleh tetangga, kerabat, maupun keluarga Almarhum, acara ini berlangsung hingga 3 hari, 7 hari, 40 hari, hingg 100 hari.

2.

Adat Pergaulan Muda Mudi

 

Sosialisasi dengan Masyarakat luas membangun generasi muda menjadi berpikiran luas dan lebih berkembang, Muda-mudi Panyadap lebih pintar bergaul antara sesamanya dalam ruang lingkup social demokratis melalui kelembagaan, dan organisasi kepemudaan. Dengan timbulnya karang taruna yang berkembang semakin luas.

3.

Hal tabu dan Pantangan

 

Masyarakat Panyadap dulu mengenal beberapa Pantangan tentang beberapa hal yang dianggap tabu, diantaranya:

-      Pada zaman dulu, masyarakat Panyadap mengetahui bahwa apabila seseorang masuk ke wilayah daerah Pusaka, tidak boleh mengenakan Tutup kepala dudukuy (Bahasa Sunda)

-      Apa bila ada pementasan kesenian daerah di tabu kan/tidak boleh menggunakan alat music goong

-      Masyakat Panyadap pada zaman dulu mempercayai kalau daerah Gunung Asri/Sindang Suni (Kampung Puja) sangatlah angker.

-      Apabila Pindah rumah, tidak boleh melanggar kala  (Perhitungan Waktu) yang disakralkan,

4.

Permainan tradisional

 

Permainan tradisional (yang sekarang hampir punah) masyarakat Panyadap pada umumnya sama dengan masyarakat sunda lainnya diantaranya :

a. Luncat Tinggi (Lompat tali)

b. Jajangkungan (Egrang)

c. Gatrik

d. Sondah

e. Sorodot Gaplok

f. Pacublek-cublek uweng

g. Babalonan

h. Ucing Sumput (Petak Umpet)

i. Dll.

5.

Rumah Adat

 

Rumah adat warga Panyadap, pada umumnya sama dengan  orang sunda yang lainnya, yakni berjalan sesuai dengan perkembangan adat pada zamannya diantaranya berupa bentuk/potongan:

a.    Julang ngapak

b.    Badak Heuay

c.    Parahu nangkub

d.    Tagog anjing

e.    Jolopong

f.     Capit gunting, hingga zaman sekarang telah berbentuk model modern.

6.

Makanan Khas Tradisional

 

Makanan Pokok orang Panyadap juga  sama seperti masyarakat sunda pada umumnya, sesuai dengan perkembangan pangan pada masanya, masyarakat desa Panyadap mengkonsumsi nasi, Nasi bubur, jagong, gaplek, oyek dll. Dengan makanan khas angeun (sayur) pahinum, angeun lompong, peuyeum, ranginang, opak, kolontong, wajit, dodol, karedok, lotek dll.

7.

Obat Tradisional

 

Masyarakat Panyadap zaman dulu pada umumnya masih menggunakan obat tradisional diantaranya:

a. Babadotan untuk obat luka

b. Daun Jambu biji untuk obat sakit perut, dan ramuan yang lainnya yang bersal dari alam.

 

Kirim Komentar


Nama
No. Hp
E-mail
Isi Pesan
  CAPTCHA Image  
 

 Sinergi Program

 Aparatur Desa

 Media Sosial